Rawat Tradisi Budaya, Begini Menurut Abdul Mujib Wakil Sekretaris PC NU Sidoarjo

banner 970x250

GEDANGAN – Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, Abdul Mujib S.Ag., M.Pd.I. menjadi pemateri dalam program kerja Kuliah Opini Malam (KOMA) dengan tema “Budaya dan Agama; Merawat Tradisi Amaliyah Nahdliyah” yang diselenggarakan PAC IPNU-IPPNU Gedangan pada Sabtu, 20 Agustus 2022 di MTs Hassanuddin Tebel.

Diketahui tema tersebut dilatarbelakangi oleh maraknya budaya barat yang sudah menjalar di kalangan anak muda, menyebabkan sedikit anak muda yang berkecimpung di kegiatan sosial keagamaan, hingga dirasa perlu pendekatan agama melalui budaya.

Abdul Mujib mengatakan, “hubungan agama dan budaya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Agama berasal dari doktrin suci Tuhan, sedangkan budaya berasal dari hasil karya manusia melalui proses belajar dari lingkungannya. Sehingga hubungan agama dan kebudayaan berlangsung secara timbal balik, dan dapat disimpulkan agama secara praksis merupakan produk pengalaman dan pemahaman masyarakat berdasarkan budaya yang sudah dimilikinya,” jelasnya

Menurut pria yang pernah menjadi ketua PAC IPNU Gedangan itu, proses pendekatan budaya tidak akan hilang dengan pendekatan agama, karena agama dan budaya tidak bisa dipisahkan, walaupun nilai agama harus dikedepankan daripada budaya. Semua sudah tertuang dalam Piagam Madinah, sehingga NU menerima Pancasila dan NKRI, serta adanya Islam Nusantara merupakan respon terhadap globalisasi.

“Kenapa sih agama dan budaya harus beriringan? Agama dari Allah, budaya dari masyarakat, dua hal yang tidak boleh disandingkan tapi saling melengkapi, karena kalau disandingkan nanti jadinya orang Islam harus pakai gamis, jubah, cadar. Ada orang Arab yg pake sarung karena orang Indonesia sangat kuat mempengaruhi dan sumber perekonomian yang besar bagi negara Arab,” jelas Abdul Mujib saat menyampaikan materi di “Kuliah Opini Malam”.

Baca Juga  Ketua MWCNU Prambon Dukung ISHARI dan ISNU Tingkat Ranting

“Kita dilahirkan dengan konsep Jawa, kesopanan dan ke-andhap asoran adalah ciri khasnya. Oleh sebab itu, kita harus menjaga hubungan vertikal dan horizontal agar seimbang. Nilai gotong royong, menghargai orang lain, rendah hati itu sesuai dengan falsafah jawa. Kebiasaan adat, sarungan, kemben, tahlilan, dan lain sebagainya adalah upaya untuk merawat kebudayaan pribumi,” pungkas wakil sekretaris PCNU Sidoarjo tersebut.

 

Pewarta: Savira Tasya

Editor: Emzed Ef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *