Situs Resmi PCNU Kab. Sidoarjo

Perangi Covid 19, MWC NU dan Banom Bagikan Padasan

Satgas MWC NU Krembung sebelum membagikan Padasan.

Merebaknya wabah Covid 19 yang masih terjadi menggerakkan MWC NU Krembung menerjunkan Satgas Peduli Corona.

Ketua PAC Ansor Krembung Fahrizal Muafi mempimpin langsung tim tersebut. Ia bekerja sama dengan NU Care Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh (LAZISNU) MWC NU dan banom, lembaga-lajnah lainnya membagikan Padasan dan melakukan penyemprotan desinfektan serta memberikan fasilitas kebersihan lainnya kepada masyarakat.

Muafi menjelaskan, kegiatan kongkrit satgas berupa penyemprotan masjid, musalah, TPQ, dan madrasah diniah se-Krembung dengan jumlah titik sebanyak 456 pada Ahad, 29 Maret 2020 yang lalu.

Selain itu, lanjutnya, membagikan Padasan dan Handshoap kepada 35 Masjid dari 19 Ranting. Aktifitas satgas pun berkelanjutan dan tidak hanya dilaksanakan sakali saja.

“Pada Agenda Pertama kemarin kita melakukan penyemprotan tempat ibadah yakni 35 masjid, 297 mushollah, 83 TPQ & Madin serta 35 lembaga di nauangan LP Maarif & 6 Ponpes. Sedangkan Agenda hari ini adalah pembagian Padasan dan Handsoap kepada 35 Masjid se wilayah MWC NU Krembung sebagai upaya kontribusi nyata kita kepada masyarakat,” jelas Muafi.

Sementara Ketua Tanfidziyah MWC NU Krembung H. Suyanto mengapresiasi semua badan otonom dan lembaga-lajnah naungan MWC NU Krembung yang terlibat dalam aksi sosial tersebut.

“Terima kasih kepada semua jajaran MWC NU, Banom, Lembaga, DNA Seluruh Pengurus Ranting termasuk UPZIS LAZISNU, sehingga Satgas NU Peduli ini dapat menjalankan tugas dan berkontribusi memberikan manfaat sebesar-besarnya di tengah Pandemi Covid 19 ini,” jelas Abah Yanto sapaan akrabnya.

Adapun Pengurus LAZISNU MWC NU Krembung HM. Burhanuddin Mulyono menyampaikan bahwa pihaknya telah berkontribusi selama pandemi Covid 19 ini, termasuk pemberian Padasan supaya masyarakat hidup bersih dan berbudaya suci.

Padasan merupakan wadah air zaman dulu berupa kendi yang ditaruh di depan setiap rumah. Wadah tersebut disediakan bagi siapa saja yang ingin bersuci atau berwudlu dan sekedar mencuci tangan.

Seiring berjalannya waktu dan modernisasi, kearifan lokal tersebut hilang. Pasalnya, saat ini masyarakat sudah tidak menyediakan wadah itu lagi.

Jika kembali ke masa nenek moyang yang selalu menjaga wudlu dan kesucian, maka saat ini merupakan momentum kembali lagi ke masa lalu demi menjaga kebersihan diri.

“Panglima Sudirman punya amalan menjaga Wudlu. Di setiap beliau singgah maka di situlah dibuatkan Padasan,” pungkas Burhanudin Mulyono. (Tris)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.