Situs Resmi PCNU Kab. Sidoarjo

Pada Festival Ishari, Cak Nur: NKRI Harga Mati, Salawatan sampai Mati

Dalam rangka meramaikan Hari Santri Nasional, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama PCNU dan Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) menggelar Festival Terbang Ishari di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo.

Sekretaris 1 Ishari Cabang Sidoarjo Ustad Sajidin mengatakan, kegiatan tersebut diikuti lebih dari 1200 orang penerbang dari 11 kecamatan. Mereka akan menggelar pertunjukan selama 4 jam di pendopo pemkab itu. “Kalau mulai jam 9, selesai sekitar jam 1,” katanya.

Selain dihadiri anggota Ishari, Ketua PCNU bersama jajaran dan wakil bupati Sidoarjo juga nampak berada di tengah-tengah mereka.

Ketua PCNU K.H. Maskun menghimbau, selama kepemimpinannya komunikasi antara PCNU dan Ishari harus lebih intensif. Pasalnya, PCNU ingin mensikronkan program-program dan mendistribusikan anggaran tahunan kepada seluruh badan otonom dan lembaga yang ada. “Ishari harus menata kembali hubungan dengan PCNU karena Ishari bagian dari NU,” himbaunya.

Di depan ribuan anggota Ishari, ia pun menjelaskan bahwa Ishari adalah bagian dari santri. Saat ini pemerintah memberi ruang dan kesempatan kepada santri untuk merayakan hari besarnya sebagai penghormatan kepada para pahlawan santri yang berjuang merebut kemerdekaan.

Kiai Maskun mengapresiasi atas keberanian pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri, meski terlambat. Meski demikian sumbangsi santri kepada negeri tak pernah berkurang sejak sebelum kemerdekaan hingga saat ini.

Senada dengan Kiai Maskun, Wabup Sidoarjo H. Nur Ahmad Syaifuddin sebagai tuan rumah mewakili Bupati Sidoarjo mengapresiasi keberadaan Ishari di tengah arus modernisasi. Menurutnya, hal itu dikarenakan anggota Ishari cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

“Saya dulu juga pernah jadi drek (anggota koreografi Ishari). Kalau ada acara di manapun salalu ikut meski tidak dibayar. Bahkan Pernah juga tidak kebagian konsumsi,” kata Cak Nur, sapaan akrab Wabup Sidoarjo, Ahad, 21 Oktober 2018.

Ia pun mengajak untuk istiqamah bersalawat dan mempertahankan paham Aswaja dari paham radikal yang beberapa tahun terakhir mengancam negara. “Yang penting NKRI harga mati, salawatan sampe mati,” ajaknya.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.