Situs Resmi PCNU Kab. Sidoarjo

Mbah Moen yang Saya Kenal

Foto penulis.

Oleh: Syaikhul Islam

Subuh pagi tadi mungkin akan jadi subuh yang sulit saya lupakan. Saat bangun agak terlambat sekitar pukul 04.00 waktu Saudi, entah kenapa saya terjaga dan reflek bicara sendiri dengan sedikit teriak Mbah Moen itu haji setiap tahun seperti sahabat Abdullah ibnu Umar hingga seluruh isi kamar ikut terbangun.

Ya mungkin karena semalam sebelum tidur saya kepikiran isi buku Kiai Ali Musttafa berjudul Haji Pengabdi Setan yang isinya mengkritik orang yang setiap tahun berhaji dan tidak memiliki kepedulian sosial.

Semuanya tampak biasa saja sebelum saya pergi ke kamar mandi. Namun setelah berita wafatnya Mbah Moen mulai bersliweran di WA grup, lutut ini rasanya lemas, antara percaya dan tidak. Kiai yang saya idolakan sejak kecil itu benar wafat. Tak lama WA dari ayah saya masuk, menyuruh segera ke rumah sakit membantu sebisanya.

Saya lekas berangkat meski tahu di sana saya pasti tidak bisa bantu apa-apa. Tapi, syukurlah saat sampai di sana sudah banyak orang yang membantu termasuk kolega saya di DPR RI yang lama tinggal di Makkah H. Mukhlisin dan Pak Lukman Menteri Agama.

Mbah Moen adalah satu di antara sedikit kiai yang saya kenal sejak kecil. Kiai yang selalu semangat bercerita bahwa keluarga kami adalah kerabatnya dan memanggil ayah saya dengan sebutan Pak Lek walaupun usianya jauh lebih tua.

Keluarga kami di Sidoarjo dan Keluarga Mbah Moen di Sarang memang punya leluhur yang sama yaitu Mbah Muhdlor dan Mbah Syamsiyah.

Saat saya di bangku sekolah dasar, Mbah Moen sering hadir untuk ceramah di acara Haul Mbah Muhdlor. Dan bagian cerita Mbah Moen yang paling saya suka, Mbah Muhdlor setiap Jumat pergi Jumatan ke Makkah dengan naik sampan.

Jadi wajar kalau Mbah Moen suka pergi ke Makkah untuk haji, lha wong mbahnya saja pergi ke Makkah setiap Jumat.

Mayoritas santri Jawa Timur dan Jawa Tengah adalah pengagum Mbah Moen karena keluasan ilmunya, tak terkecuali ayah saya. Siapa sih yang tidak ingin anaknya dididik oleh kiai yang ahli tafsir, fikih, hadis, nahwu-shorof sekaligus seorang sufi seperti Mbah Moen.

Di awal 90-an, saat Mbah Moen ke Sidoarjo ayah saya selalu ditanya siapa anaknya yang mau mondok di Sarang, tapi ayah saya tidak menjawab karena anaknya masih kecil. Selain itu, ingat susahnya jadi santri di Sarang karena untuk mandi dan cuci harus naik bus.

Waktu berjalan dan takdir memutuskan bahwa saya tidak pernah mondok di Mbah Moen, tapi saya berharap dicatat sebagai santri beliau meskipun hanya 1-2 kali pernah ngaji Tafsir Jalalain hari minggu.

Saya percaya bahwa Mbah Moen ini adalah ulama yang thariqah utamanya adalah ngaji dan mendidik santri (ta’lim wa ta’allum). Meskipun saya pernah mendengar beliau ambil wirid thariqah Qadiriyah-Naqsyabandiyah dari Mbah Romli Tamim.

Kabar lain mengatakan, beliau juga mengambil ijazah wirid thariqah dari masyayikh berbagai thariqah di Mekkah, Mesir, dan Syria.

Tapi yang perlu digaris bawahi, yang menjadi suluk beliau sehari-hari ya mengajar dan mendidik santri. Dan itulah thariqah yang utama, sedangkan wirid itu hanya membantu saja.

Soal pentingnya ngaji saya punya pengalaman khusus dengan beliau. Suatu hari kira-kira tahun 2012 beliau mendatangi acara di pondok kami di Lebo, Sidoarjo. Beliau singgah di gedung sekolah pondok yang baru, yang kata orang mewah.

Beliau bilang ke saya dan kakak saya, “yang penting tidak lupa mabda’nya tujuannya” . Saya paham yang dimaksud adalah ngaji, karena banyak pondok punya fasilitas sekolah bagus tapi ngajinya kalah. Selain itu mungkin karena Mbah Moen adalah saksi hidup pondok Lebo lama peninggalan Mbah Muhdlor yang sederhana.

Beliau pernah cerita pondoknya terbuat dari angkringan bambu di dekat sungai. Kalau hujan lebat sering banjir dan tidak bisa ditempati, tapi santrinya rajin mengaji.

Selain kegigihan beliau mendidik santri dan menyebarkan ilmu, hal lain yang menonjol dari Mbah Moen tentu saja politik. Beliau tercatat pernah jadi anggota DPR, MPR, menjadi fungsionaris partai, dan aktif sebagai juru kampanye (jurkam) di era pemilu tertutup.

Saya tidak tahu apa Mbah Moen pendukung Imam Ghazali yang pernah bilang agama dan politik adalah saudara kembar. Tapi memang biasanya seorang tokoh agama yang berpengaruh tidak bisa lepas dari tanggung jawab politik, sebagaimna tokoh politik kuat lainnya yang memiliki cantolan anasir agama.

Jadi tidak heran kalau beliau sampai usia sepuhnya masih aktif mengikuti perkembangan bahkan mungkin terlibat dalam politik.

Banyak orang percaya Mbah Moen adalah seorang kekasih Allah sejak muda, karena yang menyatakan itu adalah Mbah Hamid Pasuruan. Beliau bilang, Mbah Moen sebagai waliyyun min awliyaillah (seorang kekasih di antara kekasih-kekasih Allah) atau dalam kesempatan lain mengatakan Kiai Maimoen wali nom (kiai maimoen wali muda).

Saya sendiri yakin sekali dengan hal itu dan lebih mantap lagi ketika mengantar guru saya Syaikh Yusri Jabr al-Hasani mengunjungi Mbah Moen di Sarang. Dan setelah itu beliau mengatakan Kiai Maimoen min ahl haqoiq (Kiai Maimoen termasuk ahli hakikat).

Memang tidak banyak cerita karomah Mbah Moen selain keistiqomahan dan keluasan samudera ilmunya. Meminjam istilah ayah saya: kewaliane ketutupan karo kekiaiane (kewaliannnya tertutup keulamannya) maksudnya adalah karomahmya sebagai wali tidak muncul karena Allah lebih suka melihat beliau bermanfaat untuk umat dengan ilmunya.

Sebagaimana Imam Syafi’i dan Imam Ahmad yang semasa hidupnya masyhur sebagai ulama, tetapi setelah wafat disepakati sebagai awliya. Tetapi kemarin di hari beliau wafat Allah nyata-nyata menunjukkan Mbah Moen adalah kekasihnya.

Saya tak bisa membayangkan berapa juta orang yang Salat Jenazah dan Gaib untuk Mbah Moen.

Semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik. Memantaskan kita untuk meneruskan perjuangannya dan mengumpulkan kita kelak dengannya bersama Rasulullah SAW. Amin..!


Makkah, 6 Agustus 2019

Penulis adalah Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dan putra K.H. Agus Ali Mashuri, pengasuh Pesantren Bumi Sholawat Lebo, Sidoarjo.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.