Situs Resmi PCNU Kab. Sidoarjo

Kiai Marzuki: DPR Bosok Mok Pilih ae

Ketua PWNU Jawa Timur K.H. Marzuki Mustamar hadir di Sidoarjo Bersholawat XII pada Senin, 10 Desember 2018. Kehadiran beliau sebagai penceramah di acara yang digelar di Masjid Agung Sidoarjo itu.

Ceramah Kiai Marzuki kali ini membahas tentang pentingnya rizki halal. Beliau mengibaratkan rizki halal dan tidak halal seperti bahan bakar yang murni dan bercampur air got. “5 liter Pertamax iso tekan lawang, tapi 50 liter e campur banyu peceren yo ora tutuk soale mogok,” jelasnya.

Artinya, agar doa kita sampai kepada Allah syaratnya makanan yang kita makan harus halal. Meskipun ilmu dan rizki kita pas-pasan.

Di tahun politik ini Kiai Marzuki meminta segenap warga NU untuk hati-hati dengan money politik. Pasalnya, berapa pun uang politik yang diterima menyebabkan ibadah salat 40 hari tidak diterima oleh Allah SWT. “Ojo gara-gara money politik salat 40 dino ora keterimo. DPR Bosok mok terimo ae,” tegasnya kepada jamaah.

Beliau pun membagikan tips untuk menghindari money politik. Caranya dengan memegang prinsip budaya mutu dengan mengetahui integritas calon pemimpin dan wakil rakyat. Intinya pinter dan niatnya benar. “Dolek sing pinter, bener, soleh,” kata Kiai Marzuki.

Kisah Imam Syafi’i dan orangtuanya pun dijadikan rujukan. Kedua orangtua sang Imam sangat menjaga makanan halal. Hasilnya, Imam Syafi’i hafal Alquran di usia 7 tahun dan ketika usianya 14 tahun sudah jadi mufti. Imam salah satu adzab itupun tak memakan gajinya selama menjabat sebagai hakim.

Ketua PWNU itu juga menghimbau bagi pemerintah dan wakil rakyat untuk membuat peraturan yang memihak kepada yatim piatu dan guru-guru yang selama ini memiliki gaji dibawah upah minimum.

Di akhir ceramahnya beliau mengkritik kejadian yang akhir-akhir ini sedang banyak diperbicangkan, yakni kepentingan politik berkedok agama. Siapa saja akan menerima hukuman seperti halnya murid Nabi Musa yang dijadikan babi hutan oleh Allah karena menggunakan agama untuk kepentingannya.

“Kalau memang bela kalimat tauhid harus konsisten, tidak di Indonesia tok, di Arab juga,” pungkas Kiai Marzuki. (Fin)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.