Situs Resmi PCNU Kab. Sidoarjo

Imam

Foto penulis saat di Bali.

Oleh Nawawi A. Manan

Setelah membaca berita KPK menetapkan Menpora Imam Nahrowi sebagai tersangka korupsi, penulis baru menyadari bahwa selama ini – sejak kanak-kanak hingga dewasa – penulis selalu bersama orang-orang bernama Imam.

Pada masa kanak-kanak, penulis punya seorang teman bernama Imam. Tubuhnya gemuk, rambutnya agak kriwul, matanya sipit tapi tidak kayak orang Tionghoa karena kulitnya hitam. Ia suka bermain klereng, layang-layang, sepak bola, dan lain-lain tetapi tidak pernah menang. Jika mengikuti gladi hadra, ia selalu menempati baris paling belakang pojok kanan atau kiri.

Sebagai anak nelayan dengan rumah di pinggir kali dia pandai berenang. Pada setiap musim kemarau, dia mengajari penulis berenang. Ketika menjadi nelayan dia menjadi wasilah teman-temannya dalam upaya menyelamatkan diri ketika di laut sedang bertiup angin kencang. Dia punya batu akik yang khadamnya diyakini mampu membantu berdoa menyisihkan terjangan angin.

Ketika di bangku MTs, penulis diajar guru Bahasa Indonesia bernama Imam Syafi’i. Dia berkulit kuning, ganteng, selalu tersenyum, dan tidak pernah marah. Dia kuliah di IAIN Sunan Ampel, tapi fasih sekali ketika menjelaskan sajak, gurindam, dan sastra Angkatan Poejangga Baroe. Dan, meski orang Sumatera, dia juga fasih menjelaskan cerita wayang.

Ketika belajar menulis cerpen dan puisi pada awal 1980-an, penulis sering teringat pada pak Imam Syafi’i, dan penulis yakin bahwa kehadiran beliau telah memotivasi penulis sebagai penulis puisi dan cerpen, yang kemudian membawa penulis ke dunia jurnalistik.

Di Jawa Pos era Kembang Jepun, penulis punya senior bernama Imam Soedjadi. Dia memang tidak sepopuler generasi angkatan H Sholihin Hidayat dan Djoko Susilo, tetapi tekun dan istiqamah. Dia adalah salah satu partner pak Dahlan Iskan ketika membesarkan Jawa Pos. Karena dedikasi dan prestasinya, dia diangkat menjadi wakilnya pak Dahlan, sebagai wakil pemimpin redaksi dan wakil direktur.

Ketika masih bertugas di Jawa Pos Jember, penulis juga punya teman bernama Imam Bukhari, arek Banyuwangi kuliah di Jember. Dia sering membuntuti penulis karena ingin belajar jadi wartawan.

Awalnya dia tidak ingin jadi wartawan. Suatu ketika dia menulis berita asal-asalan tentang koperasi di Banyuwangi, dikirimkan ke salah satu koran kecil terbitan Surabaya. Setelah tulisannya masuk koran, banyak orang di desanya menganggap dia wartawan.

“Kabeh wong nang kampungku nganggep aku wartawan. Nek gak dadi wartawan temenan aku isin, Mas!” katanya sambil tersipu.

Yang menarik dari Imam Bukhari, dia bertetangga dengan pelawak Tjahyono. Sehingga, penulis bisa menulis tentang pasangan Jojon dalam Jayakarta Grup itu tanpa harus bertemu di Jakarta.

Di antara beberapa orang bernama Imam, yang paling istimewa ialah guk Imam, tetangga penulis di Krembung. Dia seorang penjual es yang terpaksa mengakhiri karirnya karena menderita tunarungu. Keistimewaan guk Imam, ia adalah jamaah langgar di depan rumah penulis yang selalu datang paling awal.

Pernah, pada waktu subuh, karena jamaah yang biasanya mengumandangkan adzan tidak segera datang, tugas adzan diambil alih guk Imam. Karena pendengarannya tidak berfungsi, otomatis dia tidak bisa mengontrol intonasi dan makharijul hurufnya. Tidak hanya gembrek, tapi ancor!

“Anda kenal dengan Imam Nahrowi?” tanya seorang peserta PKPNU di salah satu PCNU di Jawa Timur.

“Saya kenal dia, tetapi dia tidak kenal dengan saya,” jawab penulis.

Mosok sesama orang Sidoarjo tidak saling kenal?” tanya peserta lain.

“Dia orang besar, beda level,” bantah penulis.
Dua hari setelah Imam Nahrowi ditetapkan KPK sebagai tersangka, seorang wartawan mantan aktivis PMII bertanya kepada penulis melalu WA, “Cak, bagaimana komentar Jenengan terhadap kasusnya Menpora?”

Tiba-tiba penulis teringat pada ucapan seorang aktivis Satgas PDI Perjuangan, sekitar sebulan setelah terpilihnya Win-Saiful periode pertama, “Cak, nek masalah urusan duwik, koncoku mbek konco Sampeyan podo wae.”

Penulis adalah Dewan Pakar PC Lesbumi NU Sidoarjo, pernah mendapat Penghargaan Publikasi Keaksaraan dari Mendikbud RI.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.