Situs Resmi PCNU Kab. Sidoarjo

Habibie di Mata Santri

Bendera setengah tiang untuk BJ. Habibie.

Oleh: Ahmad Muhdhor Ali

Berpulangnya Presiden ke-3 Indonesia, Prof. Dr. BJ Habibie, sontak mengejutkan segenap bangsa dan masyarakat Indonesia. termasuk para santri. Pasalnya, sejak dulu ia menjadi inspirasi dengan sosok yang teknokrat yang bersahaja, apalagi saat menjabat sebagai ketua cendekiawan muslim Indonesia.

Bagi santri, BJ Habibie merupakan sosok manusia yang complete package. Pasalnya, ia juga seorang negarawan yang ingin bangsa Indonesia tidak selalu bergantung kepada asing. Dengan teknologi yang ia kuasai, keinginannya untuk mehilangkan jarak di NKRI sudah ia lakukan dengan membuat CN250 Gatot Kaca.

Di kalangan santri, BJ Habibie sebagai sosok yang menginspirasi anak-anak bangsa untuk membuktikan diri kepada dunia internasional. Sehingga hal itu layak diteladani oleh santri untuk membuktikan diri di berbagai bidang dan aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Para santri pun merasakan bahwa beliau merupakan cerminan kegigihan dalam menuntut ilmu dan ingin berbuat banyak untuk Indonesia dengan ilmunya.

Seperti halnya prinsip para santri saat menuntut ilmu, utlubul `ilma minal mahdi ilal lahdi, artinya menuntut ilmu hingga akhir hayat atau dalam bahasa kerennya ilmu kependidikan itu long life education. Itulah yang dilakukan Pak Habibie sepanjang hidupnya.

Sains dan teknologi kini mulai menjadi tradisi bagi para santri. Bahkan, upaya mendekatkan sains dan teknologi telah dimulai sejak dari pendidikan dasar. Banyak santri pun menjadikan Habibie sebagai inspirator saat menuntut ilmu.

Di kalangan santri pun muncul istilah berhati Makkah, berotak Habibie. Artinya, visi keilmuan agama berpadu dengan visi sains serta teknologi, karena memang itu tak bisa dipertentangkan.

Agama harus mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, teknologi juga harus bermanfaat untuk kebutuhan dan kepentingan agama di antaranya sebagai media dakwah.

Alquran memerintahkan umat menggunakan akalnya untuk mencermati alam semesta, artinya kita dituntut belajar sains dan teknologi. Selain itu, ada ayat yang memerintahkan kita untuk berfikir, yakni afala ta’qilun atau afala tatafakkarun yang artinya tidakkah kamu sekalian berpikir.

Penguasaan sains dan teknologi bagi para santri untuk membantu masyarakat, terutama bagi mereka yang masih berada di daerah bukan perkotaan.

Ketika para santri sudah menguasai teknologi seperti BJ. Habibie maka keutuhan NKRI semakin kokoh. Pasalnya, oleh santri teknologi tidak hanya untuk penciptaan alat-alat produksi dan terapan tetapi juga untuk penguasaan media sosial dan media massa.

Di pondok pesantren Bumi Sholawat contohnya, sains dan teknologi diperkenalkan secara intens. Berbagai laboratorium berbasis teknologi ada di pesantren itu. Lomba sains antar santri kerap digelar untuk memacu para santri menguasai teknologi.

Namun, sebagai manusia modern dan milenial teknologi harus dijadikan tidak lebih dari sebatas alat dan fasilitas penunjang. Sehingga kadarnya tidak melebihi kebutuhan primer manusia. Apalagi sampai melebihi kebutuhan rohani atau spiritual.

Dengan meneladani Pak Habibie, anak-anak Indonesia khususnya di Sidoarjo harus memperkuat tradisi sains dan teknologi. Habibie-Habibie baru diharapkan lahir di pesantren dan komunitas pendidikan yang ada di Sidoarjo.

Sebagai sesama muslim saya mengingatkan alangkah sebaiknya kita melakukan salat gaib serta bertahlil untuk BJ Habibie. Di pesantren Bumi Sholawat telah mengkibarkan bendera setengah tiang sebagai penghormatan kepada BJ Habibie.

Penulis adalah Direktur Akademik Pondok Pesantren Bumi Sholawat Lebo, Sidoarjo.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.